Theme Preview Rss

PLTN?? Kenapa nggak..

GAPTEK, karena penentangan terhadap PLTN tidak pernah berdasarkan analisa terhadap kelemahan/kekurangan teknologi nuklir dibanding alternatif lain, hanya berdasarkan KETAKUTAN tidak beralasan dan membabi-buta. Dibanding sumber energi lain, PLTN termasuk yang paling AMAN, dan didukung oleh data otentik. Penentang PLTN mirip orang yang paranoid naik pesawat biarpun sudah dijelaskan kalau naik pesawat lebih aman dibanding sarana transportasi lainnya.

Kata siapa PLTN merusak lingkungan? Justru PLTN lebih ramah lingkungan dibanding PLTD atau PLTU. Maksudnya takut terjadi seperti Chernobyl? Itu sudah puluhan tahun lalu, om.... Dan ratusan PLTN lain di dunia tidak apa-apa tuh.

Pemanfaatan teknologi nuklir adalah tuntutan perkembangan zaman. Kalau menolak teknologi terus-terusan, kapan mau jadi negara maju. Lagipula PLTN di masa depan tidak mungkin bisa dihindari. Kira-kira punya alternatif energi apa ? Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (Migas, batubara) pasti akan habis, alternatif energi lainnya (energi surya, angin, pasang, fuel cell dll) belum praktis dan masih mahal. Semakin ditunda malah semakin terbelakang dalam bidang teknologi nuklir. Kalau sudah krisis energi baru serabutan cari solusinya.

OK, potensi yang dikembangkan di pedalaman tadi, kira-kira berapa MW energi yang dapat dihasilkan? Untuk berapa lama? Bisa diterapkan di tempat lain? Apakah benar-benar bebas efek samping? Teknologi seperti apa yang dipakai?

http://forum.detik.com/showthread.php?t=19002&page=13

Hutang pemanasan-global Amerika

Joseph Stiglitz memaparkan kebijakan politik berbasis ekonomi Amerika Serikat di balik isu pemanasan global.

Desember 1997, negara-negara yang tergabung dalam UNFCC berkumpul di Kyoto, Jepang. Para pemimpin negara ini sepakat menandatangani protokol Kyoto yang diadopsi dari Pertemuan Bumi di Rio de Janerio tahun 1992. Pernyataan pers PBB menyatakan protokol ini merupakan persetujuan negara-negara industri untuk mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5.2 % dari tahun 1990. Gas yang jadi kambing hitam pemanasan bumi ini antara lain berupa karbon dioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC dan PFC. Target Kyoto adalah pengurangan 8 persen untuk Uni Eropa, 7 persen untuk Amerika Serikat, 0 persen untuk Rusia dan batas penambahan emisi yan gdiijinkan untuk Australia sebesar 8 persen dan 10 persen untuk Islandia.

“Protokol Kyoto telah mengalami kegagalan,” kata Joseph Stiglitz, penerima nobel ekonomi 2001 dan kritikus kebijakan pemansan global..Kegagalan menurut Stiglitz jelas terlihat dari ketidakpatuhan negara-negara dunia menerapkan isi protokol Kyoto. Apalagi, mendekati 2010, target Kyoto masih jauh panggang dari api. Perjanjian lingkungan hidup ini ketinggalan jaman, sejak terbukti emisi gas rumah kaca tidak hanya berasal dari perindustrian saja. Organisasi Peace menyatakan Indonesia dan Brazil menduduki peringkat 3 dan 4 negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar dunia. Namun keduanya sama-sama negara berkembang dan memproduksi gas emisinya dari pembakaran hutan. “Protokol Kyoto hanya sampai pada penyampaian pesan akan pentingnya isu pemanasan global pada dunia,”kata Stiglitz.

Berawal dari penolakan Amerika Serikat ikut serta dalam protokol Kyoto, sejumlah negara lain di dunia mengikuti jejak Paman Sam. BBC melaporkan, Australia adalah salah satunya. Perdana Meneri Australia John Howard terang-terangan menyatakan negaranya tidak akan mematuhi isi protokol Kyoto selama Amerika tetap kukuh menolak. “Tidak ada gunanya Australia ikut, selama negara polutan terbesar dunia tidak mendukung protokol itu,” tegas Howard.

Amerika menurut Stiglitz adalah negara industri yang masih memiliki pandangan fundamental. “Mereka masih mempercayai teknologi industri yang banyak memakan bahan bakar bakar fosil,” kata Stiglitz. Saat Eropa dan Jepang mulai memproduksi mobil-mobil kecil yang irit bahan bakar fosil, Paman Sam justru melakukan sebaliknya. Autonet menyebutkan mobil-mobil produksi Amerika semisal Ford atau General Motor rata-rata menghabiskan lebih banyak bahan bakar dibandingkan mobil Eropa, Jepang atau Korea.

“Kebiasaan ini ada kaitannya dengan kebudayaan Amerika sendiri,” kata Emil Salim, pakar lingkungan hidup. Menurutnya dibandingkan negara-negara lain di dunia, penduduk Amerika cenderung menggunakan kendaraan besar. Kendaraan yang menghabiskan lebih banyak bahan bakar fosil ini menjadi simbolisme maskulinitas ala Amerika.

Pemerintahan Bush telah mengambil kebijakan tidak akan “memaksakan” peraturan pengurangan emisi pada industri Amerika. Keputusan menerapkan teknologi ramah lingkungan pada industri hanya didasarkan pada kesukarelaan masing-masing perusahaan. Pemerintahan Bush juga mempertahankan Undang-undang pertambangan Amerika yang telah ketinggalan jaman. UU yang dibuat tahun 1872 ini sama sekali tidak mengharuskan perusahaan tambang Amerika memperhatikan atau mengurus dampak kerusakan lingkungan sekitar area tambang. New York Post mencatat hingga tahun 2006 sekitar 500 ribu area bekas tambang di Amerika terbengkalai.

“Bush berasal dari latar belakang keluarga yang dekat dengan industri minyak, dan ia sendiri seorang yang berpandangan fundamentalis untuk masalah ini,” Stiglitz menjelaskan. Bush meniti karier politiknya sebagai Gubernur Negara Bagian Texas di tahun 1994. Selama masih kuliah, Bush juga sempat bekerja di bisnis minyak milik keluarganya. Tak heran jika Bush tak ingin isu pemanasan global menggoncang bisnis minyak Amerika.

Padahal menurut laporan terakhir organisasi Peace, paman Sam hingga tahun 2007 masih menduduki peringkat pertama negara penghasil emisi karbon dioksida terbesar. Serupa dengan China di posisi kedua, emisi Amerika sebagian besar berasal dari pemakaian energi negara tersebut. Dan penyerapan energi terbesar berasal dari lingkungan industri. “Amerika akan setuju dengan peraturan pemanasan global apapun selama itu tidak berpengaruh pada industrinya,” tegas Stiglitz.

Memang tak semua politisi negeri ini mendukung kebijakan Bush. Politikus Al Gore kini lebih dikenal sebagai aktivis lingkungan hidup. Film dokumenter Unconvinient Truth mengenai pemanasan global karyanya bahkan meraih penghargaan Academy Award 2007. Secara pribadi Al Gore juga memilih menggunakan mobil Hibrid yang lebih ramah lingkungan. Menurut majalah Forbes, Gore sebenarnya telah berusaha memaksa Amerika menerima protokol Kyoto sejak tahun 2000. Namun ia kalah dalam perebutan kursi kepresidenan, dan Amerika tetap menerapkan kebijakan lingkungan “sukarelanya.”

“Pemanasan global terlalu besar untuk hanya diandalkan pada itikad baik saja,” kata Stiglitz. Ia menaruh harapan besar pada kaum demokrat pada pemilu 2008 nanti. Menurutnya pergantian pucuk pimpinan bisa berarti pergantian sikap konvensional Amerika menjadi lebih terbuka atas isu pemanasan global. “Bagaimanapun sebenarnya Amerika mampu membiayai industri yang ramah lingkungan,” tegas Stiglitz.

Mampu tapi tak mau. Tak bisa diingkari perubahan teknologi tetap akan memakan biaya tambahan. “Semuanya tetap soal uang,” kata Emil Salim. Misalnya sampai saat ini batubara masih menjadi bahan bakar termurah. Mineral ini ideal untuk pembangkit energi meskipun menghasilkan emisi karbon dioksida terbanyak diantara bahan bakar fosil lainnya.

Berupaya memecahkan masalah, Stiglitz mengemukakan solusi pemanasan global yang berbasis ekonomi. Menurutnya masalah terletak pada keengganan negara dan perusahaan polutan secara sukarela membayar dampak sosial marjinal. Polusi akibat emisi karbon tak bisa diingkari berdampak langsung terhadap lingkungan sosial. Menurut Environmental Working Group dan Pew Campaign for Responsible Mining jumlah klaim terhadap pertambangan Amerika naik dari 207.504 di 2003 menjadi 376.500 di tahun ini.

“Solusinya, perusahaan-perusahaan ini harus dipaksa membayar biaya marjinal itu lewat pajak,” kata Stiglitz. Ukuran besar kecilnya pajak, menurut dosen Universitas Columbia ini akan ditentukan lewat dampak reduksi emisi sesuai yang dicita-dicitakan protokol Kyoto.

Dilain pihak, Stiglitz juga mempertimbangkan “keadilan” bagi negara-negara yang diminta mempertahankan hutannya. Laporan Greenpeace menyatakan pada tahun 2006 hutan tropis Amazon berkurang 25 persen dari luasnya semula. Meskipun pemerintah Brazil telah berkomitmen akan mengurangi pembalakan hutannya.

“Mempertahankan hutan berarti mengurangi kesempatan membuka lahan untuk pertanian, tapi mengapa tidak ada kompensasi bagi negara-negara yang melakukannya?”, kata Emil Salim. Dalam makalah Economics and Politics of Gobal Climate, Stiglitz mengemukakan solusi insentif berbasis pasar. Selain pengenaan pajak untuk setiap emisi karbon dioksida, perlu diterapkan penyeimbang berupa subsidi dan tukar menukar teknologi antara negara-negara dunia.

Untuk ini, setiap negara berkembang menurut Stiglitz memerlukan insentif untuk melakukan efesiensi energi. Demikian, Amerika sebagai negara maju tak hanya harus berkomitmen pada reduksi emisi karbon dalam negeri saja.

“Negara maju punya kewajiban mendukung negara-negara berkembang mengurangi emisi karbon mereka,”kata Stiglitz. Ia menegaskan negara-negara berkembang tidak akan mampu menerapkan kebijakan ramah lingkungan. Dukungan ini terutama berupa transfer teknologi. Meninggalkan Paman Sam dalam dua utang pemanasan global: mengurangi emisi dalam negeri dan kewajiban memberi insentif lingkungan pada negara berkembang.

***

Dimuat di Jurnal Nasional Halaman Jurnal internasional

http://vebymega.blogspot.com/2007/08/utang-pemanasan-global-amerika.html

Menekan Pemanasan Global dengan Lampu LED

Jumat, 1 Februari, 2008 oleh Bhayu Adi Prasetya

Pernahkah Anda mendengar tentang LED? Ketika Anda menyalakan televisi, komputer, pengeras suara (speaker), hard disk eksternal, proyektor LCD, maupun perangkat elektronik lainnya, sebuah lampu kecil akan menyala sebagai indikator bahwa perangkat tersebut sedang dalam proses kerja. Lampu yang umumnya bewarna merah atau kuning tersebut dalam dunia teknik dikenal dengan nama light emitting diode atau yang kita kenal dengan singkatan sehari-hari sebagai LED.

Secara sederhana, LED didefinisikan sebagai salah satu semikonduktor yang mengubah energi listrik menjadi cahaya. LED merupakan perangkat keras dan padat (solid-state component) sehingga unggul dalam hal ketahanan (durability). LED banyak digunakan dalam perangkat elektronik karena ukurannya yang mini dan praktis, serta konsumsi dayanya yang relatif rendah. Usia yang sangat panjang, lebih dari 30 ribu jam, menambah keunggulannya. Sayangnya, suhu lingkungan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan gangguan elektrik pada LED itu sendiri. Selain itu, harga per lumen (satuan cahaya) yang lebih tinggi membuat masyarakat memilih cara penerangan biasa dengan lampu pijar maupun neon.

Efisiensi lampu pijar dan neon

Lampu pijar (incandescent lamp) menggunakan filamen tipis di dalam bola kaca yang hampa udara. Arus listrik mengalir dan memanaskan filamen. Pada suhu yang sangat tinggi, cahaya akan berpijar pada filamen tersebut. Apabila bohlam bocor dan oksigen menyentuh filamen panas, reaksi secara kimia akan terjadi sehingga lampu rusak dan tidak dapat digunakan lagi.

Bohlam pijar masih banyak digunakan di Indonesia terutama di kota-kota kecil sebab harganya yang paling murah di antara jenis lampu lain khususnya yang berbahan gas. Pada proses pencahayaannya, lebih dari 90% energi yang dihasilkan berupa inframerah dan panas. Selain itu, usianya yang hanya 1.000 jam sangat pendek dibandingkan dengan lampu lain yang lebih efisien.

Selain pijar, jenis lampu yang banyak digunakan pada masa kini adalah lampu dengan bahan gas, umumnya neon (fluorescent lamp). Lampu ini memerlukan uap merkuri untuk menghasilkan sinar ultraungu (UV light). Sinar ini kemudian diserap oleh fosfor yang melapisi bagian dalam kaca sehingga cahaya akan berpendar. Panas yang dihasilkan lampu ini lebih sedikit daripada lampu pijar tetapi masih ada energi yang hilang saat memproses sinar ultraungu menjadi cahaya yang kasat mata.

Di antara berbagai jenis lampu, lampu neon termasuk kategori lampu hemat energi dan banyak dipakai di perumahan dan perindustrian. Lampu neon dapat berusia 10 ribu jam, sepuluh kali usia lampu pijar. Namun dampaknya bagi lingkungan, kedua jenis lampu ini cukup berbahaya. Lampu pijar sangat boros dalam efisiensi energi dan cahayanya tidak cukup terang, sehingga di negara-negara maju lampu ini sudah jarang dipakai lagi. Kandungan merkuri pada lampu neon pun tidak baik bagi kesehatan manusia maupun lingkungan. Tingkat efisiensi energi yang rendah membawa pengaruh bagi pemanasan global.

Hemat energi, hemat biaya

Lampu pijar dan neon tidak berguna lagi setelah bohlamnya pecah, namun tidak demikian dengan lampu LED. Lampu ini merupakan jenis solid-state lighting (SSL), artinya lampu yang menggunakan kumpulan LED, benda padat, sebagai sumber pencahayaannya sehingga ia tidak mudah rusak bila terjatuh atau bohlamnya pecah. Kumpulan LED diletakkan dengan jarak yang rapat untuk memperterang cahaya. Satu buah lampu ini dapat bertahan lebih dari 30 ribu jam, bahkan mencapai 100 ribu jam.

LED hanya memiliki 4 macam warna yang kasat mata, yaitu merah, kuning, hijau, dan biru. Untuk menghasilkan sinar putih yang sempurna, spektrum cahaya dari warna-warna tersebut digabungkan. Yang paling umum dilakukan adalah penggabungan warna merah, hijau, dan biru, yang disebut RGB. Sampai saat ini, pengembangan terus dilakukan untuk menghasilkan lampu LED dengan komposisi warna seimbang dan berdaya tahan lama.

Keunggulan dan kelemahan lampu LED sama dengan yang terdapat pada LED itu sendiri. Namun, manfaatnya terasa dalam menekan pemanasan global dan mengurangi emisi karbon dunia. Lampu ini berasal dari bahan semikonduktor, jadi tidak diproduksi dari bahan karbon. Bila lampu LED digunakan di seluruh dunia, total energi listrik untuk penerangan dapat berkurang hingga 50%. Selisih emisi karbon yang dihasilkan dunia bisa mencapai 300 juta ton per tahunnya.

Faktor penting yang menjadi pertimbangan bagi masyarakat adalah harga. Seberapa mahalkah total biaya untuk jenis lampu LED? Mari kita bandingkan antara lampu Osram Compact Fluorescent 13W Mini Twist dengan CC Vivid Plus 36 LED 2,5W. Lampu Osram berusia hingga 8 ribu jam, sedangkan lampu Vivid dapat bertahan hingga 60 ribu jam.


Compact Fluor. 13W Mini Twist

CC Vivid Plus 36 LED 2,5W

Usia maksimal

8 ribu jam

60 ribu jam

Jumlah bohlam dalam 60 ribu jam

7,5

1

Biaya bohlam (perkiraan dalam rupiah)

7,5×50 ribu = 375 ribu

450 ribu

Energi (selama 60 ribu jam)

780 kWh

150 kWh

Biaya listrik (Rp700/kWh)

546 ribu

105 ribu

Total biaya (Rp)

921 ribu

555 ribu

Melihat perhitungan pada tabel di atas, kita bisa berhemat sampai Rp366 ribu dengan 1 lampu LED. Memang bukan perbedaan yang terlalu besar. Namun untuk menekan pemanasan global, hal sekecil apapun dapat membawa perubahan besar, bukan?


http://netsains.com/2008/02/menekan-pemanasan-global-dengan-lampu-led/

Apa yang harus dilakukan???

Mungkin Anda menduga, udara yang akhir-akhir ini makin panas, bukanlah suatu masalah yang perlu kita risaukan.

"Mana mungkin sih tindakan satu-dua makhluk hidup di jagat semesta bisa mengganggu kondisi planet bumi yang mahabesar ini?" barangkali begitulah Anda berpikir.

Baru-baru ini, Inter-governmental Panel on Cimate Change (IPCC) mempublikasikan hasil pengamatan ilmuwan dari berbagai negara. Isinya sangat mengejutkan. Selama tahun 1990-2005, ternyata telah terjadi peningkatan suhu merata di seluruh bagian bumi, antara 0,15 – 0,3o C. Jika peningkatan suhu itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang) lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Dan jika bumi masih terus memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga kelaparan pun akan meluas di seantero jagat. Udara akan sangat panas, jutaan orang berebut air dan makanan. Napas tersengal oleh asap dan debu. Rumah-rumah di pesisir terendam air laut. Luapan air laut makin lama makin luas, sehingga akhirnya menelan seluruh pulau. Harta benda akan lenyap, begitu pula nyawa manusia.

Di Indonesia, gejala serupa sudah terjadi. Sepanjang tahun 1980-2002, suhu minimum kota Polonia (Sumatera Utara) meningkat 0,17o C per tahun. Sementara, Denpasar mengalami peningkatan suhu maksimum hingga 0,87 o C per tahun. Tanda yang kasat mata adalah menghilangnya salju yang dulu menyelimuti satu-satunya tempat bersalju di Indonesia , yaitu Gunung Jayawijaya di Papua.

Hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut, Institut Teknologi Bandung (2007), pun tak kalah mengerikan.

Ternyata, permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daerah-daerah di Jakarta (seperti : Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing) dan Bekasi (seperti : Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam semuanya.

Dengan adanya gejala ini, sebagai warga negara kepulauan, sudah seharusnya kita khawatir. Pasalnya, pemanasan global mengancam kedaulatan negara. Es yang meleleh di kutub-kutub mengalir ke laut lepas dan menyebabkan permukaan laut bumi – termasuk laut di seputar Indonesia – terus meningkat. Pulau-pulau kecil terluar kita bisa lenyap dari peta bumi, sehingga garis kedaulatan negara bisa menyusut. Dan diperkirakan dalam 30 tahun mendatang sekitar 2000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Bukan hanya itu, jutaan orang yang tinggal di pesisir pulau kecil pun akan kehilangan tempat tinggal. Begitu pula asset-asset usaha wisata pantai.

Peneliti senior dari Center for International Forestry Research (CIFOR), menjelaskan, pemanasan global adalah kejadian terperangkapnya radiasi gelombang panjang matahari (disebut juga gelombang panas / inframerah) yang dipancarkan bumi oleh gas-gas rumah kaca (efek rumah kaca adalah istilah untuk panas yang terperangkap di dalam atmosfer bumi dan tidak bisa menyebar). Gas-gas ini secara alami terdapat di udara (atmosfer). Penipisan lapisan ozon juga memperpanas suhu bumi. Karena, makin tipis lapisan-lapisan teratas atmosfer, makin leluasa radiasi gelombang pendek matahari (termasuk ultraviolet) memasuki bumi. Pada gilirannya, radiasi gelombang pendek ini juga berubah menjadi gelombang panas, sehingga kian meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca tadi.

Karbondioksida (CO2) adalah gas terbanyak (75%) penyumbang emisi gas rumah kaca. Setiap kali kita menggunakan bahan bakar fosil (minyak, bensin, gas alam, batubara) untuk keperluan rumah tangga, mobil, pabrik, ataupun membakar hutan, otomatis kita melepaskan CO2 ke udara. Gas lain yang juga masuk peringkat atas adalah metan (CH4,18%), ozone (O3,12%), dan clorofluorocarbon (CFC,14%). Gas metan banyak dihasilkan dari proses pembusukan materi organic seperti yang banyak terjadi di pet erna kan sapi. Gas metan juga dihasilkan dari penggunaan BBM untuk kendaraan. Sementara itu, emisi gas CFC banyak timbul dari sistem kerja kulkas dan AC model lama. Bersama gas-gas lain, uap air ikut meningkatkan suhu rumah kaca.

Gejala sangat kentara dari pemanasan global adalah berubahnya iklim. Contohnya, hujan deras masih sering datang, meski kini kita sudah memasuki bulan yang seharusnya sudah terhitung musim kemarau. Menurut perkiraan, dalam 30 tahun terakhir, pergantian musim kemarau ke musim hujan terus bergeser, dan kini jaraknya berselisih nyaris sebulan dari normal. Banyak orang menganggap, banjir besar bulan Februari lalu yang merendam lebih dari separuh DKI Jakarta adalah akibat dari pemanasan global saja. Padahal 35% rusaknya hutan kota dan hutan di Puncak adalah penyebab makin panasnya udara Jakarta . Itu sebabnya, kerusakan hutan di Indonesia bukan hanya menjadi masalah warga Indonesia , melainkan juga warga dunia. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia

(Walhi), mengatakan, Indonesia pantas malu karena telah menjadi Negara terbesar ke-3 di dunia sebagai penyumbang gas rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut (yang diubah menjadi permukiman atau hutan industri). Jika kita tidak bisa menyelamatkan mulai dari sekarang, 5 tahun lagi hutan di Sumatera akan habis, 10 tahun lagi hutan Kalimantan yang habis, 15 tahun lagi hutan di seluruh Indonesia tak tersisa. Di saat itu, anak-anak kita tak lagi bisa menghirup udara bersih.

Jika kita tidak secepatnya berhenti boros energi, bumi akan sepanas planet Mars. Tak akan ada satupun makhluk hidup yang bisa bertahan, termasuk anak-anak kita nanti.

Cara-cara praktis dan sederhana 'mendinginkan' bumi:

  1. Matikan listrik. (jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan standby. Cabut charger telp. genggam dari stop kontak. Meski listrik tak mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN menggunakan bahan bakar fosil penyumbang besar emisi).
  2. Ganti bohlam lampu ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet. Hindari penggunaan lampu berwarna kuning karena lebih panas. Yang berwarna putih lebih baik).
  3. Bersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%).
  4. Jika terpaksa memakai AC....,Tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur suhu sejuk secukupnya,sekitar 21-24o C).
  5. Gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll).
  6. Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.
  7. Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda.
  8. Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon.
  9. Gunakan kendaraan umum (untuk mengurangi polusi udara).
  10. Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).
  11. Say no to plastic. Hampir semua sampah plastic menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar. Atau Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali.
  12. Sebarkan berita ini kepada orang-orang di sekitar Anda, agar mereka turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi.
  13. Gunakan selalu barang-barang yang dapat didaur ulang (hindari penggunaan sumpit bambu).

Jika kita tetap tidak peduli kita hanya tinggal menunggu waktu saja …………………..

Save Our Earth.....Please Act Yourself......NOW..... NOW….. NOW ….. !!!!

r_nurazmi@yahoo.com